Jika ada ribuan hari yang membentang
Maka ku ingin habiskannya denganmu
Berbagi dunia aneka warna
Memaknainya sebagai keindahan
Jika ada asa yang membumbung
Ku ingin terbang hanya denganmu
Berbagai kisah aneka rupa
Mengartikannya sebagai cinta
Duhai cinta
Biarkan lelahku hanyut di bening matamu
Terbasuh senyummu yang damai
Bersandar di kokoh bahumu
Begandengan tangan kita lalui benting yang menghadang
Menanti surut meninggalkan waktunya
Hingga pasang kembali naik
Mengizinkan bahtera kecil kita menyeberang
Andai ada kelahiran kembali
Maka tetap engaku yang ku pilih
Sebagai cinta dalam hidupku
Hanya engkau.
Rabu, Agustus 13, 2008
Minggu, Agustus 10, 2008
Memungut yang terserak
Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menuliskan kisah ini, tapi kesibukan membenturkanku pada sebuah kata yang akhir-akhir ini kerap menguasi kosakataku “tidak sempat”, bahkan teman-teman sekantor kerap menjuluki waktu makanku dengan kata brealunch, maksudnya sarapan plus makan siang, maklum terkadang aku baru menyentuh makananan ketika arloji kesayangan hadiah ultah dari Hubby menunjukan pukul 11.00 teng, so apa namanya kalo bukan brealunch?
Tapi lagi-lagi kisah ini memanggil-manggil, bergelayut terus di otakku, terlebih kala mentap wajah bening sang nenek tua penjual kue yang biasa datang kekantorku, dengan sekeranjang penuh jajanan pasar, tubuh renta itu membawa baban yang demikian berat, walaupun aku tak mengerti matematika bahkan cendrung kesulitan dengan segala bentuk hitungan, namun sensor perasaanku berkata bahwa pastilah sang nenek kepayahan menjijinjing keranjang biru itu, bahkan tak jarang ku temui ia terengah-engah di Pos Satpam kantorku seraya menunggu pelanggan-pelanggan setianya menghampirinya.
Sesungguhnya aku teramat jarang berinteraksi dengan sang nenek, biasanya hanya melihatnya sekilas pandang mengelar dagangannya di kantorku, namun entah kenapa beberapa hari yang lalu hatiku seolah tergerus melihatnya, seorang nenek tua yang usianya mungkin sebaya nenekku. Harusnya ia sudah waktunya duduk manis di rumah menikmati segelas teh dan camilan kecil sambil menunggu kunjungan anak cucu, atau seperi yang lazim ku lihat ketika mengunjungi nenekku, mengaji dengan khusu kemudian dengan riang memamerkan aneka tamanan yang beliau rawat dengan tangannya sendiri.
Mengapa? Tentu pertanyaan itu yang bergema di benakku, ada banyak kemungkinan untuk jawaban pertanyaanku, namun hari itu ketika melihatnya sujud dalam sholatnya yang takzim, aku seperti tak lagi perlu tau kenapa hal seperti itu terjadi pada seoarang nenek tua, aku hanya melihat keriangan di matanya, ketulusan dari senyumnya yang damai, sepertinya aku menjadi lebih tertarik untuk merasakan energy dan semangatnya dalam bertahan hidup, dan tentunya aura keikhlasan yang memancar kuat dari dirinya.
Subhanallah, betapa ringan ia jalani hidup, betapa ia ikhlas ia lalui hari, tak ada keluhahan, tak ada permintaan belas kasihan, yang ia jalani hanyalah “lakon” begitu katanya ketika aku bertanya apa ia tidak lelah berdagang di usianya yang senja.
Tuhan…mendadak aku jadi sangat malu padaMu, betapa aku teramat banyak mengeluh untuk hal-hal sepele, mengeluhakan ketiadaan kenyamanan maksimal yang mampu kuraih.
Nenak tua yang tabah itu saja terus berjuang untuk hidupnya, padahal di jalanan banyak ku lihat pengemis yang kondisinya jauh lebih “baik” dari sang nenek, namun sang nenek tidak melakukannya karena ia percaya bahwa Tuhan menginginkan umatnya menjadi umat yang kuat, tidak cengeng dan pantang menyerah.
Tuhan jaga lah mata, hati dan telinga ku untuk dapat memungut hikmah dari semua kisah yang terbentang di bumiMu, jangan biarkan kesombongan menutup hatiku, jangan biarkan hingar bingar dunia mebutakan mataku, dan jangan biarkan kalpaan menulikan telingaku, bimbing aku Tuhan, untuk semakin dekat pada mau Mu, dan jangan biarkan mauku meraja dan mengaburkan arah yang engakau tunjukan padaku.
Tapi lagi-lagi kisah ini memanggil-manggil, bergelayut terus di otakku, terlebih kala mentap wajah bening sang nenek tua penjual kue yang biasa datang kekantorku, dengan sekeranjang penuh jajanan pasar, tubuh renta itu membawa baban yang demikian berat, walaupun aku tak mengerti matematika bahkan cendrung kesulitan dengan segala bentuk hitungan, namun sensor perasaanku berkata bahwa pastilah sang nenek kepayahan menjijinjing keranjang biru itu, bahkan tak jarang ku temui ia terengah-engah di Pos Satpam kantorku seraya menunggu pelanggan-pelanggan setianya menghampirinya.
Sesungguhnya aku teramat jarang berinteraksi dengan sang nenek, biasanya hanya melihatnya sekilas pandang mengelar dagangannya di kantorku, namun entah kenapa beberapa hari yang lalu hatiku seolah tergerus melihatnya, seorang nenek tua yang usianya mungkin sebaya nenekku. Harusnya ia sudah waktunya duduk manis di rumah menikmati segelas teh dan camilan kecil sambil menunggu kunjungan anak cucu, atau seperi yang lazim ku lihat ketika mengunjungi nenekku, mengaji dengan khusu kemudian dengan riang memamerkan aneka tamanan yang beliau rawat dengan tangannya sendiri.
Mengapa? Tentu pertanyaan itu yang bergema di benakku, ada banyak kemungkinan untuk jawaban pertanyaanku, namun hari itu ketika melihatnya sujud dalam sholatnya yang takzim, aku seperti tak lagi perlu tau kenapa hal seperti itu terjadi pada seoarang nenek tua, aku hanya melihat keriangan di matanya, ketulusan dari senyumnya yang damai, sepertinya aku menjadi lebih tertarik untuk merasakan energy dan semangatnya dalam bertahan hidup, dan tentunya aura keikhlasan yang memancar kuat dari dirinya.
Subhanallah, betapa ringan ia jalani hidup, betapa ia ikhlas ia lalui hari, tak ada keluhahan, tak ada permintaan belas kasihan, yang ia jalani hanyalah “lakon” begitu katanya ketika aku bertanya apa ia tidak lelah berdagang di usianya yang senja.
Tuhan…mendadak aku jadi sangat malu padaMu, betapa aku teramat banyak mengeluh untuk hal-hal sepele, mengeluhakan ketiadaan kenyamanan maksimal yang mampu kuraih.
Nenak tua yang tabah itu saja terus berjuang untuk hidupnya, padahal di jalanan banyak ku lihat pengemis yang kondisinya jauh lebih “baik” dari sang nenek, namun sang nenek tidak melakukannya karena ia percaya bahwa Tuhan menginginkan umatnya menjadi umat yang kuat, tidak cengeng dan pantang menyerah.
Tuhan jaga lah mata, hati dan telinga ku untuk dapat memungut hikmah dari semua kisah yang terbentang di bumiMu, jangan biarkan kesombongan menutup hatiku, jangan biarkan hingar bingar dunia mebutakan mataku, dan jangan biarkan kalpaan menulikan telingaku, bimbing aku Tuhan, untuk semakin dekat pada mau Mu, dan jangan biarkan mauku meraja dan mengaburkan arah yang engakau tunjukan padaku.
Kamis, Agustus 07, 2008
Jangan Pergi
Sore itu membias jingga di Indragiri
Riaknya ku dengar merdu mengalun
Seperti akan terlelap sangat nyenyak
Jangan pergi darinya…
Ia butuh di papah dalam langkahnya yang tertatih
Temani ia sahabat,
Dalam sepinya yang menghempas
Sungguh ia pertiwi sunyi
Terjerat dalam bisu yang hampa
Perlu begitu banyak pertolongan
Untuk meniti hari yang baru.
Sahabat…
Ku mohon jangan pergi
Ada begitu banyak yang ia pelukan darimu
Senyummu yang mencerahkan harinya
Keanggunanmu yang meredam amarahnya
Pergimu hanya menambah luka
Membawa perih yang tak luruh
tahan sedikit sedihmu
simpan sejenak pilumu
demi ia yang terpuruk
P.S Ku Mohon Jangan Pergi….
Riaknya ku dengar merdu mengalun
Seperti akan terlelap sangat nyenyak
Jangan pergi darinya…
Ia butuh di papah dalam langkahnya yang tertatih
Temani ia sahabat,
Dalam sepinya yang menghempas
Sungguh ia pertiwi sunyi
Terjerat dalam bisu yang hampa
Perlu begitu banyak pertolongan
Untuk meniti hari yang baru.
Sahabat…
Ku mohon jangan pergi
Ada begitu banyak yang ia pelukan darimu
Senyummu yang mencerahkan harinya
Keanggunanmu yang meredam amarahnya
Pergimu hanya menambah luka
Membawa perih yang tak luruh
tahan sedikit sedihmu
simpan sejenak pilumu
demi ia yang terpuruk
P.S Ku Mohon Jangan Pergi….
Sabtu, Agustus 02, 2008
Yang Tersisa
Puan…
Jangan bertanya padaku tentang masa yang tergulung ombak
Sumuanya telah pergi dengan langkah berderap
Beriring lambaian hampa yang membayang perlahan
Ikutpula cerita yang tersimpan di pucuk awan
Ia hanyalah priode hampa
Yang mengambang di ruang kosong
Tak pernah tersimpan
Juga tak harus dibuang
Mengapa harus gelisah?
Andai ada beribu kisah seperti itu, jangan biarkan ia menghiba
Berjalanlah terus
Terseok itu biasa
Jika lelah datang bertamu, sambut saja ia
Pertanda harus berhenti sejenak.
Puan…
Tak ada kata yang harus disimpan
Tak ada kalimat yang harus dilupakan
Jujur saja pada hati
Menangis dan tertawa lakonnya hidup
Tetaplah berlari, horizonkan memeluk erat
Selalu ada akhir dari kisah yang berawal
Sekali lagi Puan…
Tak usah cari damai
Ia tetap di sana
Hanya tak sadari ia bejaga disisimu
Menantimu tuk sadar bahwa ia selalu ada…
Jangan bertanya padaku tentang masa yang tergulung ombak
Sumuanya telah pergi dengan langkah berderap
Beriring lambaian hampa yang membayang perlahan
Ikutpula cerita yang tersimpan di pucuk awan
Ia hanyalah priode hampa
Yang mengambang di ruang kosong
Tak pernah tersimpan
Juga tak harus dibuang
Mengapa harus gelisah?
Andai ada beribu kisah seperti itu, jangan biarkan ia menghiba
Berjalanlah terus
Terseok itu biasa
Jika lelah datang bertamu, sambut saja ia
Pertanda harus berhenti sejenak.
Puan…
Tak ada kata yang harus disimpan
Tak ada kalimat yang harus dilupakan
Jujur saja pada hati
Menangis dan tertawa lakonnya hidup
Tetaplah berlari, horizonkan memeluk erat
Selalu ada akhir dari kisah yang berawal
Sekali lagi Puan…
Tak usah cari damai
Ia tetap di sana
Hanya tak sadari ia bejaga disisimu
Menantimu tuk sadar bahwa ia selalu ada…
Kamis, Juli 31, 2008
Dawai
Dawai itu berdenting garang
Hendak marah…
Hendak teriak…
Teriak aku,
Menangis aku,
Coba berlari…
direntang gurun
Terbang
Ke pucuk awan
Malampun datang lindungi aku
Dalam benteng gelap dan pekat
Akupun berselimut kabut
Kemudian hilang
Dan tak ingin kembali
Hendak marah…
Hendak teriak…
Teriak aku,
Menangis aku,
Coba berlari…
direntang gurun
Terbang
Ke pucuk awan
Malampun datang lindungi aku
Dalam benteng gelap dan pekat
Akupun berselimut kabut
Kemudian hilang
Dan tak ingin kembali
Rabu, Juli 30, 2008
Tersenyumlah
Luruhkan saja luka itu
Biarkan ia cepat menghilang
Bersama daun yang meranggas musim ini
Cepatlah bangkit bersama angin
Menyemai bahagia di kuntum yang mekar
Tertawa lah lagi…
Bersama mentari
Lewat kicau burung, bernyanyil
Biarkan ia cepat menghilang
Bersama daun yang meranggas musim ini
Cepatlah bangkit bersama angin
Menyemai bahagia di kuntum yang mekar
Tertawa lah lagi…
Bersama mentari
Lewat kicau burung, bernyanyil
Langganan:
Postingan (Atom)

