Minggu, September 25, 2011
sendiri
Setetes air mata menusuk hatiku
Merembeskan kesakitan pada jiwaku
Hendak ku tambal ia dengan senyuman
Atau didempul saja dengan ceria
Berharap bathin mu mendengar
Berharap engkau merasa
Ada sinyal terkirim dariku
Ada isyarat yg ku sampaikan padamu
Inginku sungguh inginku
Berlarilah waktu tinggalkan perih
Hati.....berdamailah dengan seluruh rasa
Aku sungguh ingin..
Sungguh ingin kau dengar bisik hatiku
Tak dapat lisanku berkata
Hanya kebisuan temanku
Batu batu cadas, hentikan ejekan itu
Terlalu Keras ku rasa engaku menghujamku
Cepatlah sampai wahai isyarat
Cepatlah terbang dandeleon
Bawakan kisahku padanyaa
Aku tak lagi mampu menatap langit sore ini
Terlalu jingga. Membias lewat pantulan bening sungai bisu itu
Aku ingin melihatmu kali ini saja
Sebelum akhirku tiba..
Pulanglah padaku seperti saat abu-abu menjadi hari kita
Rabu, September 21, 2011
mimpi
Sudah waktunya
Maka pergilah ia sesuai janji
Sudah saatnya
Maka berlalulah ia seperti kodratnya
Ku tanya padanya, mengapa sepagi ini?
Bukankah kita belum mengahabiskan sarapan pagi
Kita juga belum menyirami melati yg baru kita tanam di halaman
Aku juga masih belum memperlihatkan padamu sulaman kristik yg ku buat saat kantuk tak datang padaku.
Aku ingin bercerita padamu, tentang resep masakan yg sekali lagi berakhir menyedihkan
Juga kisah micro fotografi yg menyihirku
Sayangku....
Aku hanya ingin kau disisiku, tersenyum seperti biasa mendengarkan ocehanan
Sayangku....
Aku hanya ingin mendengarmu berkata "apakabar manisku
Aku bermimpi rupanya....
Saat terbangun ku lihat engkau disisiku
Menawatkan segelas air dingin, pereda hausku...
Selasa, September 20, 2011
september ini
Tidak ku temukan sebutir kata dalam ruang pikirku
Begitu saja, hening begitu sunyi
Seulas kabut tipis memelukku amat erat
Mengisi rongga dadaku, memberi isyarat
Hangat...dah ritme ku berdentang menghukum hari
Begitu saja, hening begitu sunyi
Seulas kabut tipis memelukku amat erat
Mengisi rongga dadaku, memberi isyarat
Hangat...dah ritme ku berdentang menghukum hari
Selasa, Januari 25, 2011
Kamis, Januari 20, 2011
ku lihat....
ku lihat rumput liar ini tumbuh dihalaman sebuah rumah, aku yakin tak ada yang menganggapnya penting, namun aku amat menikmati pemandangan ini, ia seolah mewakili hatiku, saat jingga akan datang, ia seolah menatapku dan berkata begitu banyak cobaan dan eksosistem yang tak nayaman, namun cobalah untuk bertahan, karena hakikat sesungguhnya dari kehidupan adalah perjuangan untuk selalu berusaha menjadi sesuatu yang dapat bermanfaat byat orang lain sungguhpun hanya sekejap. seperti rumput liar ini yang memberiku banyak pelajaran
Tuhan, biarkan aku terus belajar, tolong berikan clue agar aku selau menyadari dan awas akan setiap kebenaran yang terbentang, sekalipun kesendirian akan selalu mengelayuti hari.
Tuhan....Maaf aku mengeluh
Kepala saya akhir-akhir ini dipenuhi keinginan untuk menulis, dan membagi perasaan saya pada sahabat-sahabat saya, namun entah mengapa saya akhirnya mengurungkan niat saya, saya memilih berdialog dengan diri saya saya, membicarakannya dalam diam, menuturkannya lewat aliran-aliran kisah hanya didalam pikiran saya saja.
Saya sedang mencoba merenungi diri saya sendiri, tentang apa yang saya inginkan dalam hidup saya, tentang tujuan hidup saya dan tentang banyak hal yang pada akhirnya tetap menimbulkan pertanyaan dihati saya walaupun saya selalu berusaha mengabaikan pertanyaan itu tiap kali ia mengelitik nurani saya.
Pernahkah anda mengalami bully, dalam hal ini penganiayaan psikologis, berupa ejekan, maupun penghinaan berkaitan dengan hal yang tak pernah bisa anda kontrol yaitu terkait Fisik anda?, jika jawabnya tidak, sebaiknya anda segera bersyukur, karena setidaknya tak ada lubang di hati anda yang harus anda tambal untuk menjadikan diri anda masih merasa “utuh”, jika pelecehan itu terkait, dengan sesuatu yang bisa manusia ciptakan, atau sekedar dapat di kontrol hasil akhirnya oleh manusia, mungkin hal itu akan menjadi energi untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang kehadirannya bermanfaat buat orang lain atau minimal kehidarannya tidak menyakiti orang lain.
Pernahkan kita bertanya pada seseorang yang memiliki fisik berbeda dari orang “normal” , keinginannya kah untuk menjadi berbeda? Atau jika ia bisa memilih kira-kira tampilan fisik seperti apa yang akan ia minta pada Tuhan?
Saya punya jawabnya, jika kita bisa memilih, kita akan meminta tampilan fisik yang membuat kita tidak kelihatan”berbeda” dengan para mencela, kita akan memilih menjadi manusia yang “cantik”, namun bukankah Tuhan tidak menyediakan pilihihan itu, ketika kita dilahirkan, berusaha untuk tampil normal sudahlah dilakukan namun ketika sentuhan tangan manusia tak mampu menutupi keaslian ciptaan Tuhan, yang tersedia hanylah pilihan untuk bahagia atau atau selalu bersedih dengan ciptaanNya yang sesungguhnya selalu sempurna?.
Sekali lagi ada sebuah memiliki pertanyaan, apakah kita semua pikir Tuhan salah menciptakan bentuk yang menurut kita tidak “normal”, atau kita berprasangka bahwa pada saat Tuhan menciptakan bentuk yang menurut kita jelek, hina dan tidak sempurna itu Tuhan sedang mengantuk? Hingga bentuknya tidak simetris, atau bentuknya salah dari desainnya? Sekali lagi rasanya kita semua pasti memiliki jawabannya, Tuhan tak pernah salah mencipatakan orang-orang “berbeda” hanya mata hati kita semua yang tertutup tak pernah menyadari betapa dalam ketidaksempurnaan itu, Tuhan meniciptakan kesempuranaan, atau hal yang paling sederhana saja, jika tidak ada “jelek” bagaimana kita bisa tau bahawa hal yang anda miliki itu adalah sebuah keindahan.
Maaf Tuhan saya tidak bermaksud marah, kesal atau mengomel, saya hanya sedang berdialog dengan otak dan hati saya, saya berharap, saya bisa menerima apapun yang Tuhan berikan dengan saya ikhlas, saya sedang memotivasi diri saya bahwa saya juga adalah makhluk Tuhan, dan sesungguhnya Tuhan mencintai saya sama seperti Tuhan mencintai orang”normal” lainnya.
Maaf Tuhan, saya merasa sangat sedih, maaf Tuhan, saya terkadang belum bisa berdamai dengan kenyataan, harusnya saya selalu ingat bahwa apaapun kondisi yang Engkau berikan semuanya adalah berkah sekaligus adalah ujian untuk saya.
Setelah ini saya akan berusaha selalu berdoa untuk semua orang, semoga Tuhan selalu menjaga kecantikan fisik dan hati mereka, semoga semuanya selalu under control, Tuhan semoga mereka semua berbahagia dengan kecantikan yang mereka miliki, semoga kecantikan mereka mendatangkan kebaikan buat semua orang
Setelah menulis in saya menjadi amat lega, amat sangat siap mengahadapi apapun yang menyembur dari mulut indah kalian tentang saya yang kalian anggap tidak normal ini.
Tuhan maaf saya mengeluh.....
Selasa, Januari 18, 2011
Kamis, Januari 06, 2011
tentang sebuah keinginan
Tiba-tiba saja terpikir, darimana awalnya indikator cantik atau ganteng itu di tentukan, bermula darimana pula penilaian langsing itu lebih baik dari pada gemuk, berkulit putih lebih baik dari pada berkulit hitam, atau ukuran-ukran lain yang banyak berseliweran saat ini di lingkunganku. Sejujurnya saya pernah membaca di sebuah artikel?( Tepatnya kapan dan dimana memory saya tak mampu menelusiri filenya) bahawa kriteria itu adalah bentukan budaya, artinya kriteria cantik dari masa ke masa bisa saja berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Dulu perempuan yang dianggap cantik adalah perempuan yang bertubuh besar dan kuat, dan saya ingat dulu ibu saya amat membanggakan rambut ikal miliknya, karena beliau tak perlu repot-repot ke salon kecantikan untuk membuat rambutnya menjadi bergelombang. Sekarang yang saya saksikan remaja putri amat tergila-gila pada pelurusan rambut atau yang ngetren disebur rebounding.
Saya adalah manusia yang amat beruntung, saya dilahirkan dengan anugrah kesehatan, walaupun saya tidak memiliki raga dan paras sempurna baca: cantik, namun saya yakin semua itu adalah anugrah Tuhan untuk saya, mengapa Tuhan memilihkan raga ini untuk jiwa saya tentunya itu adalah hak preoregatif Tuhan yang tak layak saya pertanyakan, yang ingin saya katakan adalah saya amat nyaman dan bahagia dengan raga saya, hingga saya tidak terlalu peduli pada penilaian orang lain tentang Tubuh saya yang terlalu kurus, wajah saya yang kusam, mata saya yg memiliki lingkaran hitam, atau susunan gigi saya yang berantakan, buat saya hal itu bukanlah sesuatu yang membuat saya tidak bahagia, saya tetap menikmati hidup, tertawa bahkan “mengila” hingga saya tak habis pikir tiap kali orang-orang sekeliling saya menyarankan untuk merefarasi “KEKURANGAN” saya itu,saya tidak terlalu peduli, buat saya merawat secukupnya karunia Tuhan untuk saya itu saja sudah cukup.
Suatu waktu saya pernah “tidak bahagia” dengan diri saya, saya merasa tak ada yang menarik dengan saya, terlebih dengan derasnya isu perselingkuhan akibat istri yang tak lagi menarik, membuat saya ingin sekali tampil “cantik”, maka dimulailah petulangan mencari dokter kulit terbaik, untuk membuat kulit kusam saya menjadi bercahaya, nah....apa yang terjadi? Semua itu ternyata bukanlah karakter saya, hingga yang terjadi adalah “kehilangan diri sendiri” saya tidak bilang orang-orang yang ingin tampil cantik itu salah namun kesemimbangan antara kecantikan lahir dan bathin hendaklah dijaga.
untuk saya pribadi, perawatan mahal ternyata bukan bagian dari diri saya hingga menjalani kehidupan dengan dokter kecantikan, sepatu mahal, Tas bermerk,dan lain-lainnya selalu menerbitkan rasa bersalah dalam diri saya. Rasa bersalah karena demikian gampangnya saya menghambur-hamburkan uang yang nilainya jauh lebih banyak dari sedekah yang saya lakukan. Rasa bersalah teringat 2 asisten saya di rumah yang dengan pengasilannya yang buat saya mungkin tak ada artinya masih sempat bersedekah bahkan menopang kehidupan adik-adiknya, rasa amat menyesal begitu menyadari, koleksi tas saya yang menumpuk dan amat jarang saya gunakan sementara seorang guru didaerah terpencil sana mengunakan tas untuk mengajar hingga tas itu amat lusuh hingga akhirnyan pertahanan tas itu bobol hingga tak dapat lagi diguanakan.
Dalam sebuah perjalanan mendampingi tugas suami saya, bahkan saya melihat perempuan buruh kopra yang bertelanjang kaki, sementara sepatu saya memenuhi hampir seluruh lemari sepatu yang ada di rumah saya, saya bahkan hampir menangis, ketika baju bekas saya dan keluarga yang masih layak pakai, bagai berkah tak terhingga buat orang-orang yang mebutuhkan, sementara saya punya puluhan busana yang bahkan jarang saya gunakan akibat terpenjara dalam seragam kantor.
Sungguh pada titik itu saya amat merasa berdosa, kenapa saya menjadi manusia yang sangat hedonis, mengapa saya begitu memuja produk-produk kapitalis, bukankah saya harusnya lebih peduli pada orang lain membutuhkan uluran tangan saya, mungkin pertolongan itu terasa amat tak berarti untuk saya namun ternyata bermanfaat banyak buat orang lain.
Awalnya saya menikmati hal itu, terlebih hal itu saya lakukan tanpa menganggu keuangan dan kestabilan keluarga, namun kemudian hati saya sendiri yang bertanya, apakahh memang kehidupan seperti itu yang saya inginkan, kehidupan hedoniskan yang menerbitkan kebahagian di hati saya, ternyata membuat orang lain tersenyum jauh lebih membuat saya bahagia.
Saya tidak ingin katakan saya terlah berubah menjadi manusia dengan hati malaikat yang rela mengorbankan kepentingan pribadi demi orang lain, namun saya ingin sekali berubah, berubah menjadi lebih baik, menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain, mencoba hidup sederhana namun bisa menerbitkan senyum diwajah orang lain.....doakan saya ya.....
RESULUSI TAHUN 2011
Saya adalah manusia yang amat beruntung, saya dilahirkan dengan anugrah kesehatan, walaupun saya tidak memiliki raga dan paras sempurna baca: cantik, namun saya yakin semua itu adalah anugrah Tuhan untuk saya, mengapa Tuhan memilihkan raga ini untuk jiwa saya tentunya itu adalah hak preoregatif Tuhan yang tak layak saya pertanyakan, yang ingin saya katakan adalah saya amat nyaman dan bahagia dengan raga saya, hingga saya tidak terlalu peduli pada penilaian orang lain tentang Tubuh saya yang terlalu kurus, wajah saya yang kusam, mata saya yg memiliki lingkaran hitam, atau susunan gigi saya yang berantakan, buat saya hal itu bukanlah sesuatu yang membuat saya tidak bahagia, saya tetap menikmati hidup, tertawa bahkan “mengila” hingga saya tak habis pikir tiap kali orang-orang sekeliling saya menyarankan untuk merefarasi “KEKURANGAN” saya itu,saya tidak terlalu peduli, buat saya merawat secukupnya karunia Tuhan untuk saya itu saja sudah cukup.
Suatu waktu saya pernah “tidak bahagia” dengan diri saya, saya merasa tak ada yang menarik dengan saya, terlebih dengan derasnya isu perselingkuhan akibat istri yang tak lagi menarik, membuat saya ingin sekali tampil “cantik”, maka dimulailah petulangan mencari dokter kulit terbaik, untuk membuat kulit kusam saya menjadi bercahaya, nah....apa yang terjadi? Semua itu ternyata bukanlah karakter saya, hingga yang terjadi adalah “kehilangan diri sendiri” saya tidak bilang orang-orang yang ingin tampil cantik itu salah namun kesemimbangan antara kecantikan lahir dan bathin hendaklah dijaga.
untuk saya pribadi, perawatan mahal ternyata bukan bagian dari diri saya hingga menjalani kehidupan dengan dokter kecantikan, sepatu mahal, Tas bermerk,dan lain-lainnya selalu menerbitkan rasa bersalah dalam diri saya. Rasa bersalah karena demikian gampangnya saya menghambur-hamburkan uang yang nilainya jauh lebih banyak dari sedekah yang saya lakukan. Rasa bersalah teringat 2 asisten saya di rumah yang dengan pengasilannya yang buat saya mungkin tak ada artinya masih sempat bersedekah bahkan menopang kehidupan adik-adiknya, rasa amat menyesal begitu menyadari, koleksi tas saya yang menumpuk dan amat jarang saya gunakan sementara seorang guru didaerah terpencil sana mengunakan tas untuk mengajar hingga tas itu amat lusuh hingga akhirnyan pertahanan tas itu bobol hingga tak dapat lagi diguanakan.
Dalam sebuah perjalanan mendampingi tugas suami saya, bahkan saya melihat perempuan buruh kopra yang bertelanjang kaki, sementara sepatu saya memenuhi hampir seluruh lemari sepatu yang ada di rumah saya, saya bahkan hampir menangis, ketika baju bekas saya dan keluarga yang masih layak pakai, bagai berkah tak terhingga buat orang-orang yang mebutuhkan, sementara saya punya puluhan busana yang bahkan jarang saya gunakan akibat terpenjara dalam seragam kantor.
Sungguh pada titik itu saya amat merasa berdosa, kenapa saya menjadi manusia yang sangat hedonis, mengapa saya begitu memuja produk-produk kapitalis, bukankah saya harusnya lebih peduli pada orang lain membutuhkan uluran tangan saya, mungkin pertolongan itu terasa amat tak berarti untuk saya namun ternyata bermanfaat banyak buat orang lain.
Awalnya saya menikmati hal itu, terlebih hal itu saya lakukan tanpa menganggu keuangan dan kestabilan keluarga, namun kemudian hati saya sendiri yang bertanya, apakahh memang kehidupan seperti itu yang saya inginkan, kehidupan hedoniskan yang menerbitkan kebahagian di hati saya, ternyata membuat orang lain tersenyum jauh lebih membuat saya bahagia.
Saya tidak ingin katakan saya terlah berubah menjadi manusia dengan hati malaikat yang rela mengorbankan kepentingan pribadi demi orang lain, namun saya ingin sekali berubah, berubah menjadi lebih baik, menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain, mencoba hidup sederhana namun bisa menerbitkan senyum diwajah orang lain.....doakan saya ya.....
RESULUSI TAHUN 2011
Selasa, Januari 04, 2011
pesan
Denting gerimis kudengar pilu, lamat-lamat menghasikan dentangan yang berima, aku terjaga dari tidurku, dan mendapati sang waktu di dua pertiga malam, sang kantuk tiba-tiba saja beranjak pergi, menghilang begitu saja, membiarkan aku duduk sendirian dengan desau angin yang terus saja memenuhi pendengaranku, memaksaku mengamati sekeliling, mencari sedikit kelegaan, yang harusnya bermuara menjadi rasa syukur atas kehidupan yang masih Tuhan sematkan didiriku.
Sebuah tanya mampir padaku malam ini, tentang waktu yang berlalu, tentang orang-orang yang mampir di hidupku, kemudian setelah bertahun-tahun kembali lagi, namun dalam settingan yang berbeda, apa yang aneh? Tentu saja hal itu adalah hal biasa dalam daur hidup manusia, layaknya seperti azaleaku yang kadang mekar demikan rindang dan lain waktu menolak bersolek, atau seperti hujan yang kadang-kadang datang begitu saja, lalu pergi.
Aku mencoba untuk memejamkan mata, merunut satu demi satu rangkaian peristiwa akhir-akhir ini, amat sulit membuat kesimpulan yang objektif, kesimpulan yang adil, jauh dari prasangkaku, jauh dari egoku, jauh dari hal-hal yang sesungguhnya belum ku pahami benar. Aku tak ingin buru-buru kali ini, mencoba kembali melihatnya dari berbagai sudut, semoga saja ku temukan bintang polaris, yang setia menuntun arah, sekalipun aku seringkali mengalami disorientasi ruang dan waktu, namun setitik kerlipnya ku harap mampu menerangi jalanku.
Ku tatap lagi sebuah gambar, disana ku lihat bidadari itu tersenyum tulus, amat tulus, senyumnya merekah lebar, mungkin seperti hatinya yang berbinar, menikmati seulas waktu bersamaku, hingga bisa melihat lautan lampau yang menyimpan sebuah episode pendek tentang seseorang yang membuat senyumnya merekah. Lagi-lagi aku memejamkan mata, berharap potongan-potongan kenangan itu terrekonstruksi diotakku, disana kutemukan, sosok itu, tersenyum lewat binar matanya, ia yang kunamai sang mercusuar, sungguh dalam ingatanku ia bermetamarfosis demikian cepat, menjadi sosok yang membuat begitu banyak orang sepeti sang bidadari dengan senyuman merekah menantinya dalam diam, dengan harapan yang membuncah namun kadang juga hampa.
Aku mengerti langkah yang engkau ambil sang mercusuar, sungguh amat mengerti, bahwa tak ada langkah yang ekstrim dalam kisah ini, tak ada hijab yang tegas dalam cerita ini, engkau memainkan peran dengan amat baik, membuat kisah ini menjadi seperti tanpa duka, berharap semua orang menemukan jalannya, hingga tak harus dirimu yang bertutur tentang segara yang selalau engkau harapkan ditemui dalam perjalananmu, dan segara itu berkemungkinan tidaklah berada sedekat itu denganmu.
Aku tersenyum amat pilu, menatap lagi potret bidadari dengan senyuman merekah itu, TUHAN....apa yang dapat kulakukan? Sungguh terjebak diantara para pengagum itu tidaklah mudah, ada kepiluan setiap kisah berfluktuasi, tapi terkadang logika amat gampang terkaburkan ketika hati mengambil alih kendali, dan sepanjang perjalanan aku kembali mendengar sang bidadari menyebut-nyebut namanya dengan mata berbinar.
Entah kalimat apa yang ingin kurangkai, semua bergemuruh diotakku, haruskah ku tutun sang bidadari melihat halaman frienster lama, melihat profil seseorang yang dengan sangat berat ingin kukatakan, dialah satu-satunya yang pernah ia kisahkan padaku, seseorang yang ia nanti dengan dengan melawan sang waktu.
Banyak hal sesungguhnya yang ingin ku katakan padamu bidadari, tapi biarlah sedikit clue itu menuntunmu pada kenyatan, semoga saja engkau bisa menemukan jalanmu, hingga akhirnya menemukan tempat indah yang engkau impikan. Hingga kisah ini dikemudian hari dapat kita kenang bersama sebagai kisah yang banyak mempersatukan banyak orang.
Untukmu yang kunamai sang mercusuar, jika engaku membaca tulisan ini, ku harap engaku mempertimbangkan apa yang pernah ku sampaikan padamu, walau aku tau aku tidak ada dalam list untuk dimintai pendapat, izinkan aku berkata, ini bukan hanya tentangmu, atau kebahagiaanmu, bukan pula tentang kesempurnaan, ini hanya kisah sepenggal hati, tak butuh terlalu banyak arimatika, ataupun program-program rumit, tak perlu pula sampai harus menciptakan alat baru bahkan penemuan baru layaknya einstein. Ini “hanya” persoalan menemukan sesuatu yang pas, yang sesungguhnya berada tidaklah amat jauh darimu.
Sungguh belum ketemukan kalimat yang tepat untuk akhir kisah, namun sungguh aku berharap mampu membuat dokumentasi yang baik tentang kisah ini, hatiku berkata aku ingin akhir yang bahagia untuk kalian semua, maafkan jika aku terlalu lancang, namun biarlah sang waktu yang akan menjawab mengapa kisah ini aku tuliskan.
4/1/2010..........kerlip senyum sang bidadari
Sebuah tanya mampir padaku malam ini, tentang waktu yang berlalu, tentang orang-orang yang mampir di hidupku, kemudian setelah bertahun-tahun kembali lagi, namun dalam settingan yang berbeda, apa yang aneh? Tentu saja hal itu adalah hal biasa dalam daur hidup manusia, layaknya seperti azaleaku yang kadang mekar demikan rindang dan lain waktu menolak bersolek, atau seperti hujan yang kadang-kadang datang begitu saja, lalu pergi.
Aku mencoba untuk memejamkan mata, merunut satu demi satu rangkaian peristiwa akhir-akhir ini, amat sulit membuat kesimpulan yang objektif, kesimpulan yang adil, jauh dari prasangkaku, jauh dari egoku, jauh dari hal-hal yang sesungguhnya belum ku pahami benar. Aku tak ingin buru-buru kali ini, mencoba kembali melihatnya dari berbagai sudut, semoga saja ku temukan bintang polaris, yang setia menuntun arah, sekalipun aku seringkali mengalami disorientasi ruang dan waktu, namun setitik kerlipnya ku harap mampu menerangi jalanku.
Ku tatap lagi sebuah gambar, disana ku lihat bidadari itu tersenyum tulus, amat tulus, senyumnya merekah lebar, mungkin seperti hatinya yang berbinar, menikmati seulas waktu bersamaku, hingga bisa melihat lautan lampau yang menyimpan sebuah episode pendek tentang seseorang yang membuat senyumnya merekah. Lagi-lagi aku memejamkan mata, berharap potongan-potongan kenangan itu terrekonstruksi diotakku, disana kutemukan, sosok itu, tersenyum lewat binar matanya, ia yang kunamai sang mercusuar, sungguh dalam ingatanku ia bermetamarfosis demikian cepat, menjadi sosok yang membuat begitu banyak orang sepeti sang bidadari dengan senyuman merekah menantinya dalam diam, dengan harapan yang membuncah namun kadang juga hampa.
Aku mengerti langkah yang engkau ambil sang mercusuar, sungguh amat mengerti, bahwa tak ada langkah yang ekstrim dalam kisah ini, tak ada hijab yang tegas dalam cerita ini, engkau memainkan peran dengan amat baik, membuat kisah ini menjadi seperti tanpa duka, berharap semua orang menemukan jalannya, hingga tak harus dirimu yang bertutur tentang segara yang selalau engkau harapkan ditemui dalam perjalananmu, dan segara itu berkemungkinan tidaklah berada sedekat itu denganmu.
Aku tersenyum amat pilu, menatap lagi potret bidadari dengan senyuman merekah itu, TUHAN....apa yang dapat kulakukan? Sungguh terjebak diantara para pengagum itu tidaklah mudah, ada kepiluan setiap kisah berfluktuasi, tapi terkadang logika amat gampang terkaburkan ketika hati mengambil alih kendali, dan sepanjang perjalanan aku kembali mendengar sang bidadari menyebut-nyebut namanya dengan mata berbinar.
Entah kalimat apa yang ingin kurangkai, semua bergemuruh diotakku, haruskah ku tutun sang bidadari melihat halaman frienster lama, melihat profil seseorang yang dengan sangat berat ingin kukatakan, dialah satu-satunya yang pernah ia kisahkan padaku, seseorang yang ia nanti dengan dengan melawan sang waktu.
Banyak hal sesungguhnya yang ingin ku katakan padamu bidadari, tapi biarlah sedikit clue itu menuntunmu pada kenyatan, semoga saja engkau bisa menemukan jalanmu, hingga akhirnya menemukan tempat indah yang engkau impikan. Hingga kisah ini dikemudian hari dapat kita kenang bersama sebagai kisah yang banyak mempersatukan banyak orang.
Untukmu yang kunamai sang mercusuar, jika engaku membaca tulisan ini, ku harap engaku mempertimbangkan apa yang pernah ku sampaikan padamu, walau aku tau aku tidak ada dalam list untuk dimintai pendapat, izinkan aku berkata, ini bukan hanya tentangmu, atau kebahagiaanmu, bukan pula tentang kesempurnaan, ini hanya kisah sepenggal hati, tak butuh terlalu banyak arimatika, ataupun program-program rumit, tak perlu pula sampai harus menciptakan alat baru bahkan penemuan baru layaknya einstein. Ini “hanya” persoalan menemukan sesuatu yang pas, yang sesungguhnya berada tidaklah amat jauh darimu.
Sungguh belum ketemukan kalimat yang tepat untuk akhir kisah, namun sungguh aku berharap mampu membuat dokumentasi yang baik tentang kisah ini, hatiku berkata aku ingin akhir yang bahagia untuk kalian semua, maafkan jika aku terlalu lancang, namun biarlah sang waktu yang akan menjawab mengapa kisah ini aku tuliskan.
4/1/2010..........kerlip senyum sang bidadari
Minggu, Desember 26, 2010
anak ibuku
Sepanjang perjalanan menuju kantor pagi ini saya berpikir, tentang ribuan kilometer jarak yang memisahkan saya dari Ibu, jarak yang kata banyak orang dapat dihadang dengan komunikasi canggih masa kini, namun pagi ini saya tak ingin berkomunikasi lewat telpon dengan Ibu, saya hanya mencoba membayangkan wajah Ibu saya, perempuan agung yang melahirkan dan membesarkan saya dengan caranya sendiri, perempuan yang mengajarkan kepada saya tentang cara bertahan hidup di tengah kesendirian. Ia perempuan yang memilih mebiarkan saya berusaha untuk menapaki jalan saya, tanpa perlu sokongan dari siapapun kecuali diri saya sendiri dan tentunya doa tulus ayah ibu saya.
Saya sejak kecil tidak terbiasa tergantung pada siapun, sejak kaki mungil saya menginjak sekolah Taman kanak-kanak saya justru sudah mampu menunjukan sikap saya sendiri, ketika itu, mungkin salah satu fase tersulit dalam hidup Ibu saya, harus mengurus 3 anak sekaligus harus menapaki karir, tanpa pembantu, ataupun keluarga lain yang ikut membantu urusan domestik keluarga kami sebagaimana layaknya wanita karir. Ibu saya harus bangun pagi-pagi sekali menyiapkan segala keperluan kami sebelum saya diantar ayah saya ke sebuah taman kanak-kanak, tapi karena ayah saya bertugas di sebuah daerah terpencil yang harus ditempuh dengan pompong, hal itu tidak memungkinkannya untuk menjemput saya dari taman kanak-kanak ketika bubaran sekolah, demikian juga Ibu tempat tugasnya terlalu jauh untuk di tempuh dengan sepeda dalam waktu istirahat yang singkat.
Pilihan pun dijatuhkan dengan menitipkan saya pada tante, kakak Ibu yang tidak memiliki anak dan kebetulan ia hanya berjualan pada sore hari, namun entah apa alasannya ia juga tidak bisa menjemput saya pulang sekolah, maka saya yang berusia 5 tahun saat itu harus berjalan kaki sendirian menuju kediaman tante saya, cukup jauh perjalanan itu untuk seoarang gadis kecil seperti saya, terlebih mata kecil saya saat itu harus melihat teman-teman saya dijemput oleh orang-orang terkasihnya atau menaiki becak Ajo yang sarat muatan, saat itu, naik becak Ajo adalah hal yang keren untuk ukuran anak Tk di zaman saya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah tante saya, saya kerap berhayal, hayalan sederhana saja, saya adalah salah satu dari anak yang menaiki becak sarat muatan itu, atau saya berhayal bisa berjalan lebih jauh lagi untuk dapat kembali ke rumah saya sendiri bukan rumah Tante saya, dan saya juga berhayal saya akan seperti dr. Sartika, tokoh dalam seri TVRI yang dulu amat populer, saya berhayal saya adalah gadis muda yang mengendari mobil kemanapun saya pergi, padahal di era di kota kecil kami mobil adalah barang langka.
Hayalan itulah yang mengantarkan saya menapaki selangkah demi selangkah kaki saya menuju rumah tante saya, langkah yang amat berat dan sulit, karena sesungguhnya sebagai anak kecil berusia 5 tahun, saya adalah anak kecil yang ingin dibujuk dan tentu saja ingin mendengar tutur lembut, namun tante saya tak dapat menyelami jiwa kanak-kanak saya, ia seoarang yang saklek dan sangat disiplin, segala sesuatunya harus serba teratur, bersih dan cepat, jiwa kanak-kanak saya tak merasa nyaman berada disana dan pada usia 5 tahun saya pertama kali memutuskan hal yang kontroversial utuk hidup saya.
Suatu hari dada saya terasa amat sesak, seolah waktu pulang sekolah adalah penjara untuk jiwa kanak-kanak saya, jiwa saya ingin bebas, ingin menari bersama angin, ingin menapakkan kaki saya pada bumi, tak takut kotor tak takut debu, dan saya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah tante saya hari itu, saya memilih untuk diam saja di sekolah, sambil terus bermain, sementara satu persatu teman saya beranjak pulang, saya terus dan terus saja bermain sembari berhayal, aku adalah angin, aku adalah belukar, aku adalah tanah yang becek, atau apa saja selain gadis kecil berusia 5 tahun.
Saya tidak ingat detailnya, tentang respom guru-guru saya, yang terekam dalam benak saya tante saya akhirnya datang menjemput saya, dengan kekhawatirannya ia memarahi saya, mungkin hanya bahasa kemarahan yang ia miliki untuk mengeksprsikan rasa sayangnya akibat kebandelan sang gadis kecil berumur 5 tahun itu.
Lagi-lagi saya tak ingat detailnya, yang saya ingat akhirnya ibu saya memutuskan sepulang sekolah, saya tak lagi harus menapaki jalan kartini itu seoarang diri, saya akan pulang ke rumah saya sendiri dan tentunya dengan naik becak, walau bukan naik becak ajo yang dimata saya saat itu sangat keren, Tapi setidaknya saya naik becak.
Jika mengingat itu saya tertawa, ternyata sejak kecil saya punya jiwa pemberontak, sejak kecil saya sudah mampu “BERDEMO” dengan cara saya, dan itu adalah berkat Ibu saya yang mendidik saya untuk mengikuti hati saya, walaupun terkadang Ibu sendiri akan kewalahan dengan dengan sikapp teguh saya, tapi sepertinya Ibu tidak pernah menyesal membesarkan, saya yang hari ini dengan iringan doa ibu berhasil mewujudkan khayalan masa kecil saya, walau hari ini saya bukan dokter,hari ini saya hanya karyawan biasa namun seperti mimpi kanak-kanak saya Finally saya mengendarai mobil saya sendiri, ya mobil saya sendiri, bukan mobil suami saya, atau mobil keluarga saya, ya mobil saya sendiri tepat seperti kahyalan saya, terimakasih Ibu, saya yang pemberani ini adalah anak Ibu yang perkasa....
21/10/2010
di tatap sama anak magang membuat cerita ini jadi lebih singkat
Saya sejak kecil tidak terbiasa tergantung pada siapun, sejak kaki mungil saya menginjak sekolah Taman kanak-kanak saya justru sudah mampu menunjukan sikap saya sendiri, ketika itu, mungkin salah satu fase tersulit dalam hidup Ibu saya, harus mengurus 3 anak sekaligus harus menapaki karir, tanpa pembantu, ataupun keluarga lain yang ikut membantu urusan domestik keluarga kami sebagaimana layaknya wanita karir. Ibu saya harus bangun pagi-pagi sekali menyiapkan segala keperluan kami sebelum saya diantar ayah saya ke sebuah taman kanak-kanak, tapi karena ayah saya bertugas di sebuah daerah terpencil yang harus ditempuh dengan pompong, hal itu tidak memungkinkannya untuk menjemput saya dari taman kanak-kanak ketika bubaran sekolah, demikian juga Ibu tempat tugasnya terlalu jauh untuk di tempuh dengan sepeda dalam waktu istirahat yang singkat.
Pilihan pun dijatuhkan dengan menitipkan saya pada tante, kakak Ibu yang tidak memiliki anak dan kebetulan ia hanya berjualan pada sore hari, namun entah apa alasannya ia juga tidak bisa menjemput saya pulang sekolah, maka saya yang berusia 5 tahun saat itu harus berjalan kaki sendirian menuju kediaman tante saya, cukup jauh perjalanan itu untuk seoarang gadis kecil seperti saya, terlebih mata kecil saya saat itu harus melihat teman-teman saya dijemput oleh orang-orang terkasihnya atau menaiki becak Ajo yang sarat muatan, saat itu, naik becak Ajo adalah hal yang keren untuk ukuran anak Tk di zaman saya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah tante saya, saya kerap berhayal, hayalan sederhana saja, saya adalah salah satu dari anak yang menaiki becak sarat muatan itu, atau saya berhayal bisa berjalan lebih jauh lagi untuk dapat kembali ke rumah saya sendiri bukan rumah Tante saya, dan saya juga berhayal saya akan seperti dr. Sartika, tokoh dalam seri TVRI yang dulu amat populer, saya berhayal saya adalah gadis muda yang mengendari mobil kemanapun saya pergi, padahal di era di kota kecil kami mobil adalah barang langka.
Hayalan itulah yang mengantarkan saya menapaki selangkah demi selangkah kaki saya menuju rumah tante saya, langkah yang amat berat dan sulit, karena sesungguhnya sebagai anak kecil berusia 5 tahun, saya adalah anak kecil yang ingin dibujuk dan tentu saja ingin mendengar tutur lembut, namun tante saya tak dapat menyelami jiwa kanak-kanak saya, ia seoarang yang saklek dan sangat disiplin, segala sesuatunya harus serba teratur, bersih dan cepat, jiwa kanak-kanak saya tak merasa nyaman berada disana dan pada usia 5 tahun saya pertama kali memutuskan hal yang kontroversial utuk hidup saya.
Suatu hari dada saya terasa amat sesak, seolah waktu pulang sekolah adalah penjara untuk jiwa kanak-kanak saya, jiwa saya ingin bebas, ingin menari bersama angin, ingin menapakkan kaki saya pada bumi, tak takut kotor tak takut debu, dan saya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah tante saya hari itu, saya memilih untuk diam saja di sekolah, sambil terus bermain, sementara satu persatu teman saya beranjak pulang, saya terus dan terus saja bermain sembari berhayal, aku adalah angin, aku adalah belukar, aku adalah tanah yang becek, atau apa saja selain gadis kecil berusia 5 tahun.
Saya tidak ingat detailnya, tentang respom guru-guru saya, yang terekam dalam benak saya tante saya akhirnya datang menjemput saya, dengan kekhawatirannya ia memarahi saya, mungkin hanya bahasa kemarahan yang ia miliki untuk mengeksprsikan rasa sayangnya akibat kebandelan sang gadis kecil berumur 5 tahun itu.
Lagi-lagi saya tak ingat detailnya, yang saya ingat akhirnya ibu saya memutuskan sepulang sekolah, saya tak lagi harus menapaki jalan kartini itu seoarang diri, saya akan pulang ke rumah saya sendiri dan tentunya dengan naik becak, walau bukan naik becak ajo yang dimata saya saat itu sangat keren, Tapi setidaknya saya naik becak.
Jika mengingat itu saya tertawa, ternyata sejak kecil saya punya jiwa pemberontak, sejak kecil saya sudah mampu “BERDEMO” dengan cara saya, dan itu adalah berkat Ibu saya yang mendidik saya untuk mengikuti hati saya, walaupun terkadang Ibu sendiri akan kewalahan dengan dengan sikapp teguh saya, tapi sepertinya Ibu tidak pernah menyesal membesarkan, saya yang hari ini dengan iringan doa ibu berhasil mewujudkan khayalan masa kecil saya, walau hari ini saya bukan dokter,hari ini saya hanya karyawan biasa namun seperti mimpi kanak-kanak saya Finally saya mengendarai mobil saya sendiri, ya mobil saya sendiri, bukan mobil suami saya, atau mobil keluarga saya, ya mobil saya sendiri tepat seperti kahyalan saya, terimakasih Ibu, saya yang pemberani ini adalah anak Ibu yang perkasa....
21/10/2010
di tatap sama anak magang membuat cerita ini jadi lebih singkat
azalea
Pagi ini saya berharap ada kuntum azalea yang akan mekar, tersenyum pada saya dan menebarkan aura dingin dihari saya, Seperti pagi-pagi sebelumnya saya menatap pagi ini dengan mengamati dedaunan yang berjatuhan di hadapan jendela kamar saya, ringan saja sepertinya angin menerbangkan sang daun, hingga sang daun terpisah dari sang dahan, namun seperti pagi-pagi sebelumnya selalu ada tunas-tunas baru yang mengantikan yang pergi, hingga saya tak pernah melihat sang pohon merana di tinggalkan daun, sekalipun d musim kemarau tetap saja tunas-tunas itu bertumbuh dengan subur.
Entah mengapa akhir-akhir ini sayapun kerap mengamati kehidupan disekitar saya, begitu banyak yang pergi dan begitu banyak yang datang, dan kepergian kini semakin jarang menimbulkan kesedihan, demikian juga kedatangan tak lagi mampu membangkitkan semangat baru dalam kehidupan, yang saya lihat begitu banyak mendung yang memajang dirinya di langit, hingga melihat biru membalut langit adalah hal yang amat saya rindukan akhir-akhir ini.
Seorang teman terserang kanker paru stadium empat dan sekarang sedang menjalani kemotherapy, sudah lima bulan berlalu, saya masih melihat harapan berkobar dimatanya tiap kali kami datang berkunjung, namun seperti yang saya rasakan akhir-Akhir ini ketidakhadirannya hanyalah perbincangan sesaat dan semua orang kembali melupakan bahwa ada seseorang yang tengah berjuang mempertahankan kehidupannya, demikian juga kedatangan orang-orang baru, rasanya seperti angin, sebentar saja menghasilkan efek yang mampu membuat seseorang berpaling dari fokusnya, kemdian kembali lagi tengelam dalam dirinya.
Mendung itulah yang saya rasakan, sulit sekali menjelaskan perasaan seperti apa itu, dikatakan mendung adalah kesedihan rasanya juga kurang pas, karena semua warga kota ini membenci terik dan amat sering menanti datangnya mendung.
Atau saya katakan saja perasaan saya seperti orang yang sedang berhibrenasi, tak lagi sensitif seperti dulu, saya menengelamkan diri saya dalam mendung, membiarkan rasa peduli dan kehilangan itu menjadi hal yang biasa, ya, saya seperti ingin menjadi batu saja, kenapa? Entahlah mungkin karena kecewa, tapi ini bukan zaman untuk kecewa dan merajuk tak menatu, ini adalah masa dimana saya harus mampu menjadi diri saya yang dulu, diri saya yang termat kebal pada pengabaian sekitar pada keberadaan saya. Diri saya yang tak pernah menciptakan relasi berlebih diluar diri saya.
Tapi salahkan jika saya kecewa, bukankah saya hanyalah manusia biasa, yang pada saat itu amat sangat membutuhkan seseorang melihat saya sebagai orang yang rapuh, salahkah saya jika pada yang terkasih saya hanya mampu memperlihatkan saya yang tegar, saya hanya ingin belahan jiwa saya tetap sehat dan tetap bertumbuh dengan normal, tanpa harus merasakan kepediahan dan ketakukan yang saya rasakan terhadap sesuatu yang menjalar dan pelan-pelan merusak daya hidup saya.
Saat itu saya ingin sekali menagis di ujung telpon, bercerita padanya yang saya anggap adalah seseorang yang berbeda dari manusia sekitar saya, saat itu ingin sekali berkata, bahwa kesediahan yang ia rasakan sama besarnya seperti yang saya rasakan, dan bisakan kita saling membantu untuk saling menyembuhkan luka.
Ketika harapan saya menjadi angin, lagi-lagi saya hanya menemukan “Tali Rapia” di sana, ah tali rapia, saya memang tak pernah bisa leapas ikatan itu dari jemari saya, persis sama ketika saya dan dia pertama kali Tuhan pertemukan lewat sebuah momen yang bahkan tak pernah ada dalam memory otak saya sampai seseorang menceritakan pada saya bahwa momen tali rapia yang saya benci itu adalah momen pertama kali Tuhan menurunkan sahabat untuk saya, Sahabat yang selalu saya minta dalam doa saya pada Tuhan.
Dia yang tak lelah meladeni keluhan saya tentang pengambilalihan hidup saya hingga daya hidup saya rasanya kian hari kian lemah, Harusnya dia pergi, menjauh juga sepeti sang pujangga yang sedang terluka itu, tapi ia menyediakan sedikit celah untuk saya, Saya yang tak pernah memberi kontribusi dalam hidupnya.
Tuhan rasanya ingin saya mengulang doa, Tuhan bolehkah saya memiliki sahabat seperti sang tali rapia, tetapi berjenis seperti saya, setidaknya supaya tidak ada fitnah Tuhan, tapi saya tiba-Tiba tersadar, sudah terlalu banyak yang saya pinta pada Tuhan, biarlah kali ini saya tidak terlau manja PadaNya, menikmati saja tiap karunianya tanpa banyak berkomentar, bukankah ia yang maha pengasih, memiliki stock kasih tak terbatas hingga saya tak perlu takut tak ada seorangpun yang akan mendengarkan keluhan saya tentang perlawan saya untuk mendapatkan daya hidup kembali. Saya yakin suatu hari Tuhan akan menunjukan sendiri pada saya bahwa saya telah ia berikan segalanya, hanya menunggu proses supaya saya tersadar bahwa demikan banyak berkat yang Ia berikan pada saya.
Untuk si ‘tali rapia’ saya tak pernah mampu berkata sepatahpun tentang betapa inginnya saya tetap menjadi Sahabatnya seumur hidup, dan tak lagi berusaha mengatinya dengan yang lain hanya karena terlahir dengan fitrah berbeda, persahabatan adalah soal ketulusan itu saja, tak ada alasan, tak ada pertimbangan, SEMOGA SAJA SAYA BISA SETULUS ITU PADA MU TALI RAPIA....
20/10/2010
Menunggu sang waktu tepat pukul 16.00
Entah mengapa akhir-akhir ini sayapun kerap mengamati kehidupan disekitar saya, begitu banyak yang pergi dan begitu banyak yang datang, dan kepergian kini semakin jarang menimbulkan kesedihan, demikian juga kedatangan tak lagi mampu membangkitkan semangat baru dalam kehidupan, yang saya lihat begitu banyak mendung yang memajang dirinya di langit, hingga melihat biru membalut langit adalah hal yang amat saya rindukan akhir-akhir ini.
Seorang teman terserang kanker paru stadium empat dan sekarang sedang menjalani kemotherapy, sudah lima bulan berlalu, saya masih melihat harapan berkobar dimatanya tiap kali kami datang berkunjung, namun seperti yang saya rasakan akhir-Akhir ini ketidakhadirannya hanyalah perbincangan sesaat dan semua orang kembali melupakan bahwa ada seseorang yang tengah berjuang mempertahankan kehidupannya, demikian juga kedatangan orang-orang baru, rasanya seperti angin, sebentar saja menghasilkan efek yang mampu membuat seseorang berpaling dari fokusnya, kemdian kembali lagi tengelam dalam dirinya.
Mendung itulah yang saya rasakan, sulit sekali menjelaskan perasaan seperti apa itu, dikatakan mendung adalah kesedihan rasanya juga kurang pas, karena semua warga kota ini membenci terik dan amat sering menanti datangnya mendung.
Atau saya katakan saja perasaan saya seperti orang yang sedang berhibrenasi, tak lagi sensitif seperti dulu, saya menengelamkan diri saya dalam mendung, membiarkan rasa peduli dan kehilangan itu menjadi hal yang biasa, ya, saya seperti ingin menjadi batu saja, kenapa? Entahlah mungkin karena kecewa, tapi ini bukan zaman untuk kecewa dan merajuk tak menatu, ini adalah masa dimana saya harus mampu menjadi diri saya yang dulu, diri saya yang termat kebal pada pengabaian sekitar pada keberadaan saya. Diri saya yang tak pernah menciptakan relasi berlebih diluar diri saya.
Tapi salahkan jika saya kecewa, bukankah saya hanyalah manusia biasa, yang pada saat itu amat sangat membutuhkan seseorang melihat saya sebagai orang yang rapuh, salahkah saya jika pada yang terkasih saya hanya mampu memperlihatkan saya yang tegar, saya hanya ingin belahan jiwa saya tetap sehat dan tetap bertumbuh dengan normal, tanpa harus merasakan kepediahan dan ketakukan yang saya rasakan terhadap sesuatu yang menjalar dan pelan-pelan merusak daya hidup saya.
Saat itu saya ingin sekali menagis di ujung telpon, bercerita padanya yang saya anggap adalah seseorang yang berbeda dari manusia sekitar saya, saat itu ingin sekali berkata, bahwa kesediahan yang ia rasakan sama besarnya seperti yang saya rasakan, dan bisakan kita saling membantu untuk saling menyembuhkan luka.
Ketika harapan saya menjadi angin, lagi-lagi saya hanya menemukan “Tali Rapia” di sana, ah tali rapia, saya memang tak pernah bisa leapas ikatan itu dari jemari saya, persis sama ketika saya dan dia pertama kali Tuhan pertemukan lewat sebuah momen yang bahkan tak pernah ada dalam memory otak saya sampai seseorang menceritakan pada saya bahwa momen tali rapia yang saya benci itu adalah momen pertama kali Tuhan menurunkan sahabat untuk saya, Sahabat yang selalu saya minta dalam doa saya pada Tuhan.
Dia yang tak lelah meladeni keluhan saya tentang pengambilalihan hidup saya hingga daya hidup saya rasanya kian hari kian lemah, Harusnya dia pergi, menjauh juga sepeti sang pujangga yang sedang terluka itu, tapi ia menyediakan sedikit celah untuk saya, Saya yang tak pernah memberi kontribusi dalam hidupnya.
Tuhan rasanya ingin saya mengulang doa, Tuhan bolehkah saya memiliki sahabat seperti sang tali rapia, tetapi berjenis seperti saya, setidaknya supaya tidak ada fitnah Tuhan, tapi saya tiba-Tiba tersadar, sudah terlalu banyak yang saya pinta pada Tuhan, biarlah kali ini saya tidak terlau manja PadaNya, menikmati saja tiap karunianya tanpa banyak berkomentar, bukankah ia yang maha pengasih, memiliki stock kasih tak terbatas hingga saya tak perlu takut tak ada seorangpun yang akan mendengarkan keluhan saya tentang perlawan saya untuk mendapatkan daya hidup kembali. Saya yakin suatu hari Tuhan akan menunjukan sendiri pada saya bahwa saya telah ia berikan segalanya, hanya menunggu proses supaya saya tersadar bahwa demikan banyak berkat yang Ia berikan pada saya.
Untuk si ‘tali rapia’ saya tak pernah mampu berkata sepatahpun tentang betapa inginnya saya tetap menjadi Sahabatnya seumur hidup, dan tak lagi berusaha mengatinya dengan yang lain hanya karena terlahir dengan fitrah berbeda, persahabatan adalah soal ketulusan itu saja, tak ada alasan, tak ada pertimbangan, SEMOGA SAJA SAYA BISA SETULUS ITU PADA MU TALI RAPIA....
20/10/2010
Menunggu sang waktu tepat pukul 16.00
Rabu, Desember 22, 2010
keindahan
Sulit menemukan apa yang membawa diriku pada kehidupan dan kondisi hari ini, perjalanan itu terlalu jauh dan amat menjemukan, hingga sekeliling terasa amat membosankan dengan pemandangan yang itu-itu saja, tentu saja hal itu melahirkan kesulitan untuk mendeskripsikan sebuah keindahan lewat indikator umum.
Keindahan buat banyak orang mungkin adalah hal-hal yang memang disosialisasikan sebagai sebuah keindahan sehingga menjadi sebuah kelaziman hal itu disebut indah, dan tentu saja sensor rasa yang Tuhan berikan ikur berperan dalam menentukan hal itu, namun untuk aku hal itu jarang sekali berlaku, mungkin value yang ku anut berbeda dengan orang lain atau aku sesungguhnya asing dengan duniaku sendiri.
Kenyataan selalu saja melahirkan keindahan dalam versiku sendiri, setidaknya mindaku yang berusaha membuatnya menjadi indah, hingga terkadang aku amat sibuk menentang dunia yang menyatakan bahawa hal yang ku anggap indah itu adalah suatu kejelekan. Aku selalu berusaha dan terkadang menjadi amat sangat lelah.
Kelalahan itu terkadang juga amat indah melahirkan sensasi pencarian baru akan perasaan nyaman, setidaknya ribuan jarum kelelahan itu membangkitkan sistem syarafku untuk mencari dan terus mencari arah menuju pelangi.
Suatu ketika, ketika rasa lelah itu datang lagi, lagi dan lagi, hampir saja ingin menyerah, hampir saja ingin berlari, hampir saja mengankat bendera putih, namum seketika tangan Tuhan bekerja, entah bagaimana seluruh rasa lelah itu berganti keindahan, walau seluruh dunia menatap hina, tapi aku tak butuh dunia jika Tuhan menanamkan bibit keindahan dalam hatiku, ia terus saja bersemi memenuhi seluruh ruang dihatiku menghapus terik yang selama inimenghujam hati.
Tuhan selalu saja punya rencana, rencananya yang tak selalu dapat kumengerti, rencananya yang terkadang membuatku bertanya apakah Ia sedang menghukumku, rencananya yang membuatku hampir berputus asa, tapi selalu saja keindahan yang menjadi muara dari segala kesedihan ini.
Ketika sedang marah, aku selalu berharap bisa memilih kepada siapa tali itu aku tautkan, ketika semuanya usai aku berpikir ulang, apa hak ku untuk mendikte keinginannya, seberapa hebat aku hingga mengetahui kebaikan melebihi Nya, akhirnya dengan sesak didada sambil berharap sang lupa segera menguapkan duka, aku hanya bisa pasrah dan membuat kesimpulan hidup adalah kesendirian dan sekitar hanyalah aksesosris, kadang menambah keindahan dan kadang terlihat norak dan berlebihan.
Tuhan...aku berharap semoga stok kesabaranku tak pernah menipis,aku berdoa semoga urat cuekku tetap terpelihara, terus dan terus saja seperti itu hingga tak ada sedikit bebanku menghimpit dadaku, aku akan membiarkan saja semua oarang menguasi bumi ini, biarlah lakukan sesuka kalian, walau harus menyingkir keruang hampa aku tak peduli, aku hanya butuh kesendirianku dan itu sudah berarti sebuah keindahan untukku.
Belajar menerima, mungkin adalah yang terbaik, biarlah semuanya tergerus habis, setidaknya hal itu hanya akan berakhir sampai disitu, tidak menyakiti batninku dan tak pula merampas keindahan dari hatiku.
Mengarungi hidup berarti bersiap untuk mengatasi gelombang, gelombang juga sebuah keindahan, keindahan yang pada satu titik akan melahirkan kebahagian. Aku percaya dan sungguh percaya pada perputaran roda, biarlah semuanya berlalu saja, tak perlu klarifikasi, dengan paham atau tidak pahamnya orang lain tentang suatu pristiwa toh tidak memperbaiki keadaan, Tuhan telah membekukan sang hama itu dalam wujud hama, ia tak lagi dapat bermetamarfosis atau menjadi sesuatu yang baik, cepat atau lambat, semua memang harus dihadapi.
Hidup, kenapa harus membutuhkan pandangan dari sisi oarang lain yang toh tak pernah benar-benar melayarkan kapal bantuan ketika ribut menghatam, mereka hanya pengamat, tidak pernah jadi praktisi, jadi hanya bisa menatap, berkomentar, kemudian diam tanpa solusi sementara pisau itu telah tertancap begitu dalam.
Sang hama hanya datang pada saat panen, menggangu siklus panen, kemudian meronta-rontak ketika pestisida beraksi, seolah-olah mereka adalah korban genoisida, padahal sang petani hanya menjaga periuk nasinya agar tak bocor hingga keindahan masih bisa ia sirami di rumah mungilnya.
Ah dunia,,,,
Tak akan berujung hingga kematian menjemputmu..dan selesailah suadah semua pertanyaan yang mengelisahkanmu.
Menjelang pertandingan Germany Vs Espana....
Keindahan buat banyak orang mungkin adalah hal-hal yang memang disosialisasikan sebagai sebuah keindahan sehingga menjadi sebuah kelaziman hal itu disebut indah, dan tentu saja sensor rasa yang Tuhan berikan ikur berperan dalam menentukan hal itu, namun untuk aku hal itu jarang sekali berlaku, mungkin value yang ku anut berbeda dengan orang lain atau aku sesungguhnya asing dengan duniaku sendiri.
Kenyataan selalu saja melahirkan keindahan dalam versiku sendiri, setidaknya mindaku yang berusaha membuatnya menjadi indah, hingga terkadang aku amat sibuk menentang dunia yang menyatakan bahawa hal yang ku anggap indah itu adalah suatu kejelekan. Aku selalu berusaha dan terkadang menjadi amat sangat lelah.
Kelalahan itu terkadang juga amat indah melahirkan sensasi pencarian baru akan perasaan nyaman, setidaknya ribuan jarum kelelahan itu membangkitkan sistem syarafku untuk mencari dan terus mencari arah menuju pelangi.
Suatu ketika, ketika rasa lelah itu datang lagi, lagi dan lagi, hampir saja ingin menyerah, hampir saja ingin berlari, hampir saja mengankat bendera putih, namum seketika tangan Tuhan bekerja, entah bagaimana seluruh rasa lelah itu berganti keindahan, walau seluruh dunia menatap hina, tapi aku tak butuh dunia jika Tuhan menanamkan bibit keindahan dalam hatiku, ia terus saja bersemi memenuhi seluruh ruang dihatiku menghapus terik yang selama inimenghujam hati.
Tuhan selalu saja punya rencana, rencananya yang tak selalu dapat kumengerti, rencananya yang terkadang membuatku bertanya apakah Ia sedang menghukumku, rencananya yang membuatku hampir berputus asa, tapi selalu saja keindahan yang menjadi muara dari segala kesedihan ini.
Ketika sedang marah, aku selalu berharap bisa memilih kepada siapa tali itu aku tautkan, ketika semuanya usai aku berpikir ulang, apa hak ku untuk mendikte keinginannya, seberapa hebat aku hingga mengetahui kebaikan melebihi Nya, akhirnya dengan sesak didada sambil berharap sang lupa segera menguapkan duka, aku hanya bisa pasrah dan membuat kesimpulan hidup adalah kesendirian dan sekitar hanyalah aksesosris, kadang menambah keindahan dan kadang terlihat norak dan berlebihan.
Tuhan...aku berharap semoga stok kesabaranku tak pernah menipis,aku berdoa semoga urat cuekku tetap terpelihara, terus dan terus saja seperti itu hingga tak ada sedikit bebanku menghimpit dadaku, aku akan membiarkan saja semua oarang menguasi bumi ini, biarlah lakukan sesuka kalian, walau harus menyingkir keruang hampa aku tak peduli, aku hanya butuh kesendirianku dan itu sudah berarti sebuah keindahan untukku.
Belajar menerima, mungkin adalah yang terbaik, biarlah semuanya tergerus habis, setidaknya hal itu hanya akan berakhir sampai disitu, tidak menyakiti batninku dan tak pula merampas keindahan dari hatiku.
Mengarungi hidup berarti bersiap untuk mengatasi gelombang, gelombang juga sebuah keindahan, keindahan yang pada satu titik akan melahirkan kebahagian. Aku percaya dan sungguh percaya pada perputaran roda, biarlah semuanya berlalu saja, tak perlu klarifikasi, dengan paham atau tidak pahamnya orang lain tentang suatu pristiwa toh tidak memperbaiki keadaan, Tuhan telah membekukan sang hama itu dalam wujud hama, ia tak lagi dapat bermetamarfosis atau menjadi sesuatu yang baik, cepat atau lambat, semua memang harus dihadapi.
Hidup, kenapa harus membutuhkan pandangan dari sisi oarang lain yang toh tak pernah benar-benar melayarkan kapal bantuan ketika ribut menghatam, mereka hanya pengamat, tidak pernah jadi praktisi, jadi hanya bisa menatap, berkomentar, kemudian diam tanpa solusi sementara pisau itu telah tertancap begitu dalam.
Sang hama hanya datang pada saat panen, menggangu siklus panen, kemudian meronta-rontak ketika pestisida beraksi, seolah-olah mereka adalah korban genoisida, padahal sang petani hanya menjaga periuk nasinya agar tak bocor hingga keindahan masih bisa ia sirami di rumah mungilnya.
Ah dunia,,,,
Tak akan berujung hingga kematian menjemputmu..dan selesailah suadah semua pertanyaan yang mengelisahkanmu.
Menjelang pertandingan Germany Vs Espana....
Senin, Februari 22, 2010
tentang sebuah akhir
Tertarai putih di kolam yang bening
di tatapnya aku
di sapanya aku
lewat diam saja isyarat itu sampai padaku
lewat bingkai jendela
hujan mampir padaku
membisikan sebuah cerita
tentang semesta yang jauh
seperti teratai yang tak dapat beranjak
akupun diam dibalik jendela
menatap saja
bergumam lirih
mengirim kabar pada bening matamu
kemudian berpaling engkau
dan perlahan menghampiri hujan
bersenda bersama rinainya
dan...
terlewati saja kata yang harusnya tak bisu
aku...
Mencari celah lewat senyummu
Waktu tak ingin bersama ku
Usai sudah semua kisah
Tak ada tempat lagi untuk tuturku pada hatimu
Kini...
Bukan hanya isyarat yang tak pernah mampu mampir padamu
Tapi lautanpun memihak nestapa
Gunungpun menjadi partisi
Kokoh nian
Sangat tegar
Ahhhh....Mindamu berkelana
Tak lagi pernah pulang
Tak lagi penah melongok delta
Terus saja dipuncak gunung
Ku...
Terpaku saja...
di tatapnya aku
di sapanya aku
lewat diam saja isyarat itu sampai padaku
lewat bingkai jendela
hujan mampir padaku
membisikan sebuah cerita
tentang semesta yang jauh
seperti teratai yang tak dapat beranjak
akupun diam dibalik jendela
menatap saja
bergumam lirih
mengirim kabar pada bening matamu
kemudian berpaling engkau
dan perlahan menghampiri hujan
bersenda bersama rinainya
dan...
terlewati saja kata yang harusnya tak bisu
aku...
Mencari celah lewat senyummu
Waktu tak ingin bersama ku
Usai sudah semua kisah
Tak ada tempat lagi untuk tuturku pada hatimu
Kini...
Bukan hanya isyarat yang tak pernah mampu mampir padamu
Tapi lautanpun memihak nestapa
Gunungpun menjadi partisi
Kokoh nian
Sangat tegar
Ahhhh....Mindamu berkelana
Tak lagi pernah pulang
Tak lagi penah melongok delta
Terus saja dipuncak gunung
Ku...
Terpaku saja...
sebuah kisah
lewat kaca buram itu ia menatap
tertutup rentang yang jauh
terlalu banyak debu menempel
lalu berharap jadi sebati
lewat bening mata itu aku mengintip
ada sebongkah duka mampir disana
dan sekeping bahagia yang berbingkai indah
pada siapa kutanya
apa kabar hati??
apa kabar??
Lewat tatap mata itu ku dapat jawab
Tentang kabut yang datang perlahan
Juga tentang embun yang sejuk
Tak pernah ranting rindukan pohon
Ketika terlepas dari dahannya
Berlalu saja ia....
Lewat doa akan tumbuh ranting-ranting baru
tertutup rentang yang jauh
terlalu banyak debu menempel
lalu berharap jadi sebati
lewat bening mata itu aku mengintip
ada sebongkah duka mampir disana
dan sekeping bahagia yang berbingkai indah
pada siapa kutanya
apa kabar hati??
apa kabar??
Lewat tatap mata itu ku dapat jawab
Tentang kabut yang datang perlahan
Juga tentang embun yang sejuk
Tak pernah ranting rindukan pohon
Ketika terlepas dari dahannya
Berlalu saja ia....
Lewat doa akan tumbuh ranting-ranting baru
disuatu titik
Aku dilahirkan sebagai anak tengah, kemudian terbiasa menjalani hidup dipertengahan pula, tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, tidak pula biasa menjadi yang pertama walau juga tak sudi menjadi yang terakhir, dengan semua yang serba tak mencolok itulah aku menjalani hidup dan sangat akrab dengan kehidupan yang serba biasa saja.
Ketika orang lain terbiasa dengan sanjung puja, aku justru merasa amat asing dengan ritual itu, ketika orang lain terbiasa menjadi pusat perhatian aku justru aneh jika berada dalam posisi itu, hal itu telah mendarah daging dalam hidupku, hingga menjadi hal wajar jika bertemu seseorang yang pernah menjalani hidup dalam priode yang sama, terkadang tak pernah menyimpanku dalam memorinya hingga biasa saja jadi orang yang mengenali orang lain tapi sama sekali tak dikenali,sungguh aku terbiasa tidak dikenali oleh lingkunganku.
Suatu ketika nasib membawaku pada sebuah posisi yang membuatku seperti lampu yang tengah dikerumuni oleh laron, sungguh itu sebuah posisi yang tak nyaman untuk orang yang terlalu terbiasa dengan kehidupan yang datar, aha....tiba-tiba aku justru bertanya dalam hati’ Hei...dia sungguh-sungguh mengenali ku???’bukankah pada pertemuan terakhir yang lalu dia bertanya dengan dengan kening berkerut “siapa ya’
Terkadang amat sulit menyesuaikan diri dengan posisi baru ini, butuh ribuan jarum akupuntur untuk membuat syaraf-syarafku bereaksi dengan lingkungan sekitar yang sekarang seolah menjadi amat akrab denganku...
Keakraban itu sungguh asing, ia justru membuatku seolah berjalan seorang diri diruang hampa, Aku tak dapat merasakan apapun hanya melihat sekeliling bak mimpi yang tak mampu ku jamah.
Berusaha mencari jangkar realitas agar aku tetap tertambat ditempatku, mencari lagi keping-keping keakraban masa lalu, membuka lagi beberapa file lama yang benar-benar mengenggam hatiku, hasilnya memang hanya kutemui lembaran tipis saja yang membuatku merasa amat akrab dengan ekosistemku
Ketika orang lain terbiasa dengan sanjung puja, aku justru merasa amat asing dengan ritual itu, ketika orang lain terbiasa menjadi pusat perhatian aku justru aneh jika berada dalam posisi itu, hal itu telah mendarah daging dalam hidupku, hingga menjadi hal wajar jika bertemu seseorang yang pernah menjalani hidup dalam priode yang sama, terkadang tak pernah menyimpanku dalam memorinya hingga biasa saja jadi orang yang mengenali orang lain tapi sama sekali tak dikenali,sungguh aku terbiasa tidak dikenali oleh lingkunganku.
Suatu ketika nasib membawaku pada sebuah posisi yang membuatku seperti lampu yang tengah dikerumuni oleh laron, sungguh itu sebuah posisi yang tak nyaman untuk orang yang terlalu terbiasa dengan kehidupan yang datar, aha....tiba-tiba aku justru bertanya dalam hati’ Hei...dia sungguh-sungguh mengenali ku???’bukankah pada pertemuan terakhir yang lalu dia bertanya dengan dengan kening berkerut “siapa ya’
Terkadang amat sulit menyesuaikan diri dengan posisi baru ini, butuh ribuan jarum akupuntur untuk membuat syaraf-syarafku bereaksi dengan lingkungan sekitar yang sekarang seolah menjadi amat akrab denganku...
Keakraban itu sungguh asing, ia justru membuatku seolah berjalan seorang diri diruang hampa, Aku tak dapat merasakan apapun hanya melihat sekeliling bak mimpi yang tak mampu ku jamah.
Berusaha mencari jangkar realitas agar aku tetap tertambat ditempatku, mencari lagi keping-keping keakraban masa lalu, membuka lagi beberapa file lama yang benar-benar mengenggam hatiku, hasilnya memang hanya kutemui lembaran tipis saja yang membuatku merasa amat akrab dengan ekosistemku
juli
Juli dalam kenangan
Juli baru saja berjejak
Namun seperti senja yang membias jingga
Pertanda hampir tiba malam
Juli juga pertanda
Sang waktu akan menjauh
Juli....
Kali terakhir kita terikat dalam tawa
dan
Juli, pada harinya yang kesekian
Lewat kartu hijau itu
ku tumpahkan secala asa
untukmu yang kian cemerlang
setelah itu terasa sunyi
terenggut sudah cerahnya pagi
dan Agustus datang membawa wajah baru.
lalu Setember, Oktober, November hingga Desember
Juli baru saja berjejak
Namun seperti senja yang membias jingga
Pertanda hampir tiba malam
Juli juga pertanda
Sang waktu akan menjauh
Juli....
Kali terakhir kita terikat dalam tawa
dan
Juli, pada harinya yang kesekian
Lewat kartu hijau itu
ku tumpahkan secala asa
untukmu yang kian cemerlang
setelah itu terasa sunyi
terenggut sudah cerahnya pagi
dan Agustus datang membawa wajah baru.
lalu Setember, Oktober, November hingga Desember
Minggu, Februari 08, 2009
9 Hari
Lihatlah Langit sembilan hari kedepan
semoga ada rangkain awan
yang membawa hujan
Lihatlah taman sembilan yang akan datang
semoga sudah bermekaran adenimum merahku
Lihatlah Ponselku sembilan hari mendatang
adakah pesan singkat yang akan mampir
Semoga selalu ada hari yang baik
semoga ada rangkain awan
yang membawa hujan
Lihatlah taman sembilan yang akan datang
semoga sudah bermekaran adenimum merahku
Lihatlah Ponselku sembilan hari mendatang
adakah pesan singkat yang akan mampir
Semoga selalu ada hari yang baik
Jumat, Februari 06, 2009
katakan
Katakan
dimana duniamu berada?
sunguh demikian jauhkan?
hingga aku tak dapat singgah
katakan
tak cukupkah lewat sebuah jalan saja?
untuk menemuimu?
katakan
kenapa butuh banyak waktu?
untuk memecahkan ribuan misteri
katakan
kenapa harus ku lalui tiap hari
hanya untuk mencari jawab
yang selalu kau gengam.
katakan
kenapa harus kulihat lewat pantulan bayangan
jika ternyata semua begitu dekat.
katakan
dimana duniamu berada?
sunguh demikian jauhkan?
hingga aku tak dapat singgah
katakan
tak cukupkah lewat sebuah jalan saja?
untuk menemuimu?
katakan
kenapa butuh banyak waktu?
untuk memecahkan ribuan misteri
katakan
kenapa harus ku lalui tiap hari
hanya untuk mencari jawab
yang selalu kau gengam.
katakan
kenapa harus kulihat lewat pantulan bayangan
jika ternyata semua begitu dekat.
katakan
Kamis, Desember 25, 2008
Di Hari Ibu
Ada banyak hal yang membuat kita terkejut, di hari-hari yang kita lalui dalam hidup, terkadang adegannya membuat kita terheran-heran, mengapa kita bisa terjebak dalam kondisi yang demikian rumit, namun di satu sisi akan terbangun suatu pengetahuan tentang suatu hal yang amat asing, hal itu juga terkadang membangun suatu kesadaran bahwa tentang mengadalkan kekuatan dan kemapuan diri sendiri untuk bertahan di segala cuaca adalah suatu keharusan tak peduli seberapa banyak garda pelindung kita yang rela melakukan banyak hal untuk kita setiap saat rengekan butuh petolongan datang.
Di hari Ibu aku berjanji pada diriku, pada seluruh hari yang tersisa, bahwa tiada lain penolong setiaku hanyalah diriku sendiri dan Tuhan yang Maha Kasih, jika suatu saat kesulitan itu berkunjung, ku mohon jauhkan seluler kesayanganku itu dariku, jangan biarkan aku menghubungi seseorang yang yang ka anggap memiliki kemapuan melebihi diriku untuk datang membantuku, karena jika tak seorangpun datang aku akan jadi mahluk yang semakin bodoh, tak punya waktu untuk berpikir mencari solusi sendiri, hanya berpikir selalu mencari pertolongan dan sekali lagi kecewa kan bersarang.
Pada hari Ibu aku tersadar, bahwa hidup pada dasarnya adalah kesendirian, sekitar hanyalah aksesosis yang jangan pernah terlalu berharap akan memperindah kesendirian itu, dan dengan mengenang hal itu air mataku tak tumpah ketika melihat orang yang paling kucintai terbaring lemah di ranjang putih rumah sakit, sementara sang Aveo tak mau berkompromi denganku, ia bermasalah untuk yang pertama kali namun bertepanan dengan saat kesendirian, tanpa ada satupun tempat meminta pertolongan, aku berusaha untuk tersenyum, berusaha mengatasi semuanya sendiri.
Aku menyetir Aveoku dalam diam, melarikannya dengan kecepatan maksimum dan kehati-hatian ekstra agar tak ada satu getaranpun yang akan semakin menmbah rasa sakit di tubuh letih orang yang paling ku cintai. Samar ku lihat senyumnya, aku tau ia ingin sekali bertanya kemana kecenganganku selama ini? Tapi ia urungkan semua tanya di hatinya menghargai keberanianku kali ini.
Ternyata aku bisa melalui semua ini dengan baik, Tuhan membuatnya terasa ringan dan cepat berlalu, bahkan aku bisa tersenyum manis membawa bunga peringatan hari ibu, senyuman yang kupakai untuk memupus seluruh kesedihanku pagi ini, Terimakasih Tuhan telah tunjukan padaku bahwa tak semua yang terlihat adalah kenyataan, dan hal itu terbukti dengan telepon yang tak berbalas setelah mendengar aku terjebak dalam salah satu skenario hidup yang bernama kesulitan.
Cinta…
Semua rintangan dapat kuatasi dengan cintamu, aku tak butuh pertolongan siappun jika ada cintamu, seberapa sulitpun kakiku melangkah aku pasti akan menyusuri hidupku hingga tuntas. Sekali lagi hanya perlu kau dan keluarga kecil kita.
Di hari Ibu aku berjanji pada diriku, pada seluruh hari yang tersisa, bahwa tiada lain penolong setiaku hanyalah diriku sendiri dan Tuhan yang Maha Kasih, jika suatu saat kesulitan itu berkunjung, ku mohon jauhkan seluler kesayanganku itu dariku, jangan biarkan aku menghubungi seseorang yang yang ka anggap memiliki kemapuan melebihi diriku untuk datang membantuku, karena jika tak seorangpun datang aku akan jadi mahluk yang semakin bodoh, tak punya waktu untuk berpikir mencari solusi sendiri, hanya berpikir selalu mencari pertolongan dan sekali lagi kecewa kan bersarang.
Pada hari Ibu aku tersadar, bahwa hidup pada dasarnya adalah kesendirian, sekitar hanyalah aksesosis yang jangan pernah terlalu berharap akan memperindah kesendirian itu, dan dengan mengenang hal itu air mataku tak tumpah ketika melihat orang yang paling kucintai terbaring lemah di ranjang putih rumah sakit, sementara sang Aveo tak mau berkompromi denganku, ia bermasalah untuk yang pertama kali namun bertepanan dengan saat kesendirian, tanpa ada satupun tempat meminta pertolongan, aku berusaha untuk tersenyum, berusaha mengatasi semuanya sendiri.
Aku menyetir Aveoku dalam diam, melarikannya dengan kecepatan maksimum dan kehati-hatian ekstra agar tak ada satu getaranpun yang akan semakin menmbah rasa sakit di tubuh letih orang yang paling ku cintai. Samar ku lihat senyumnya, aku tau ia ingin sekali bertanya kemana kecenganganku selama ini? Tapi ia urungkan semua tanya di hatinya menghargai keberanianku kali ini.
Ternyata aku bisa melalui semua ini dengan baik, Tuhan membuatnya terasa ringan dan cepat berlalu, bahkan aku bisa tersenyum manis membawa bunga peringatan hari ibu, senyuman yang kupakai untuk memupus seluruh kesedihanku pagi ini, Terimakasih Tuhan telah tunjukan padaku bahwa tak semua yang terlihat adalah kenyataan, dan hal itu terbukti dengan telepon yang tak berbalas setelah mendengar aku terjebak dalam salah satu skenario hidup yang bernama kesulitan.
Cinta…
Semua rintangan dapat kuatasi dengan cintamu, aku tak butuh pertolongan siappun jika ada cintamu, seberapa sulitpun kakiku melangkah aku pasti akan menyusuri hidupku hingga tuntas. Sekali lagi hanya perlu kau dan keluarga kecil kita.
Langganan:
Postingan (Atom)

